My Trip to Semasa Di Kota Tua

​Pada tanggal 4 September 2016 saya datang ke sebuah pameran unik di Gedung Olveh, Jalan jembatan batu, persis Seberang Stasiun Kota, Kawasan Kota Tua Jakarta. 

Gedung Olveh yang selesai direstorasi

Kawasan ini selalu menarik bagi saya walau sudah berkali-kali kesana. Pemerintah DKI Jaya, terus memoles kawasan ini menjadi daerah pariwisata yang lebih baik. Museum Fatahillah sudah selesai perbaikannya , Masih berdiri megah dan sangat menarik untuk di foto

Museum Fatahillah
Jendela Hijau Museum Fatahillah

Sebenarnya ada semacam walking tour yang bernama #semasadikotatua , saya tidak mengikutinya karena tidak mendaftar. Namun karena undangan seorang teman saya datang kesana.

Nah , karena tidak ikutan walking tour, saya sempat nyasar pemirsah. Kasian deh. Hahaha. Karena letak Gedung Olveh ini tidak berada dalam kompleks Museum Fatahillah , Tapi depan Stasiun Beos atau Stasiun Kota. Cuacanya hangat-hangat eksotis membuat keringat mengucur lancar. Matahari Jakarta memang TOP. 

Akhirnya saya bertemu dengan seorang teman berinisial MO yang tidak jadi ikutan walking tour. Dan nongkrong di Cafe Historia di Kawasan Kota Tua Jakarta. Minum-minum yang dingin dulu di cafe yang nuansa jadul ala Belanda nya masih dipelihara dengan sentuhan modern tentunya

Cafe Historia
Suasana Foyer Cafe Historia
Honey Citroen Tea

Honey Citroen Tea nya suegger banget. Lemon dibejek-bejek, dikasi Madu Dan Teh Dan es yang banyak. Seger banget !

Setelah selesai minum yang menyegarkan, Kita lanjut ke Gedung Olveh. 

Di jalan banyak pengunjung di wilayah Museum Fatahillah. Ada penyewaan Sepeda, Tukang Delman. Ada seniman yang beraksi, Dan banyak yang selfie. 

Gedung Olveh ini baru saja direstorasi dan siap dijadikan tempat untuk ajang seni atau function sesuai kebutuhan. 

Gedungnya bagus sekali. Gedung kembar berwarna putih yang tampak Baru kembali. 

Kalau dibaca dari The Jakarta Post , menurut Arkeologis Candrian Attahiyat, Gedung Olveh ini dibangun tahun 1921 untuk perusahaan asuransi jiwa Belanda , Olveh (Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp), tidak berada di kompleks Batavia ( Kota Tua) utama dan bangunannya lebih kecil.Bangunan ini didesain Arsitek Belanda terkenal Richard LA Schoemaker Dan  CP Wolff Schoemaker

Bentuknya yang langsing Dan menara kembar membuat bangunan ini mencolok.

Yang paling menarik adalah lantai aslinya berada 90 cm dibawah lantai yang sekarang, yang berarti jalanan di tahun 1920 lebih rendah kira-kira 120 cm dibanding sekarang. Dibangun dikawasan Pecinan , didepan sebuah kuil yang umurnya lebih tua.

Warnanya yang putih dan kaca patri membuatnya lebih cantik. 

Balkonnya juga maju dibanding bangunan lainnya. Lebarnya 2 meter dibanding bangunan berpilar lain yang hanya berukuran 120 cm. 

Olveh dibangun di area Pinangsia, yang berawal dari kata Financien dalam bahasa Belanda.

Perusahaan Asuransi Olveh berada di lantai 3. Sementara Dua lantai di bawah disewakan ke perusahaan lain. 

Tahun 1961 , Gedung ini diambil alih Pemerintah Indonesia Dan Siberian pada Perusahaan Asuransi Jiwasraya.
Pada kerusuhan 1998, Gedung ini ditinggalkan, dan berhenti beroperasi

Upaya merestorasi Gedung ini cukup menantang. Karena banyak kendala teknis. Dilakukan beberapa penggalian untuk mengembalikan lantai aslinya. Dipasang pompa juga supaya tidak banjir.

Batanya dari Belanda

Batu bata aslinya juga dipertahankan karena asli diimpor dari Belanda

Biaya renovasi Gedung Olveh ini mencapai Rp.3 Milyar.

Kembali ke masa kini…

Masuklah kami ke wilayah pameran dalam Gedung Olveh. Disambut sebuah instalasi seni berbentuk kerumunan burung

Impresif

Didalamnya sudah ramai orang yang menghadiri pameran.

Pameran ini memamerkan aneka teh nusantara , karya seniman seperti kartu pos, Kain, kartu , kaus , buku, kue-kue artsy yang jarang saya lihat di tempat lain.

Kue yang nyeni banget

Ada pula pelatihan cat air ala Jepang yang kami urung ikut, karena tangan yang tremor.

Saya terpikat pada bhumitea.com yang sangat sedap dan elegant.

Dua hal favorit saya, instalasi seni burung dan Bhumi Tea

Sebuah upaya mulia mengangkat aneka teh terbaik Indonesia yang beragam ke tingkat yang lebih tinggi.

Semoga Bhumi bisa mewakili Indonesia di jagad teh premium dunia, 

terus suka kue-kue artsy yg namanya unik-unik, yg sekali hap habis. Enak

Abis itu Kita naik ke lantai dua untuk melihat pameran lainnya. Ternyata ada pameran Kain cantik dan Buku lama. Teman saya langsung memborong buku-buku langka

Melihat pecinta buku bertemu sungguh lah pemandangan yang menarik. Mereka membahas soal buku-buku yang saya belum pernah dengarkan sebelumnya #PelukKomikMisurindKoleksiSaya
Gedung Olveh yang cantik. Banyak spot instagramable.Toiletnya bersih, tapi lupa di foto. 

Tangganya cantik rustic gimana gitu, tapi entah mengapa saya ngos-ngosan menaikinya #mungkinjompo

Hasil Jepretan Mr O, pose di tangga cantik berbata asli berumur ratusan tahun dari Nederland

Lalu lihatlah ke atas , langit- langitnya bagus !  Walau pegal leher ini mendongak tapi senang hati melihatnya. 

Wisata kota tua yang masih menarik perhatian turis. Semoga bisa tetap menarik, tetap lestari dan membuat orang menghargai sejarah 

Berikut Jepretan artsy yang saya foto saat berkeliling di Kota Tua

Gedung Tua lain yang belum direnovasi
Meriam depan Museum Fatahillah

 Demikian lah #Aiptrip #SemasadiKotaTua sampai jumpa di perjalanan berikutnya. 

Advertisements

3 thoughts on “My Trip to Semasa Di Kota Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s